Sawit-Dipastikan-Telah-Terapkan-Praktik-Berkelanjutan

Dalam sebuah forum internasional yang diselenggarakan secara daring melalui Webinar Himpunan Alumni IPB University pada Kamis, 16 Desember 2021, Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menegaskan bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip sustainable plantation atau praktik berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Himpunan Alumni IPB University yang menghadirkan para pemangku kepentingan penting dalam sektor pertanian dan perkebunan.

Sawit Dipastikan Telah Terapkan Praktik Berkelanjutan

Prof. Arif menyampaikan hal tersebut di hadapan 11 Duta Besar Uni Eropa, dengan tujuan memperlihatkan secara nyata bahwa perkebunan kelapa sawit Indonesia tidak sesuai dengan stigma negatif yang sering beredar di luar negeri. Menurutnya, bukti praktik berkelanjutan sudah terlihat langsung di lapangan, baik melalui penerapan standar ramah lingkungan, peningkatan produktivitas lahan tanpa membuka hutan baru, maupun sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang diadopsi oleh pelaku usaha sawit nasional.

Lebih lanjut, Prof. Arif menekankan pentingnya forum seperti ini untuk membuka wawasan, menumbuhkan kepercayaan internasional, serta menjadi ruang inspirasi dalam merumuskan kebijakan maupun agenda riset baru terkait keberlanjutan. Ia berharap, kolaborasi akademisi, alumni, praktisi industri, dan diplomasi internasional dapat semakin memperkuat citra positif kelapa sawit Indonesia sebagai komoditas strategis yang tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga dikelola dengan prinsip people, planet, and prosperity.

Dengan pernyataan ini, publik—baik di dalam maupun luar negeri—didorong untuk melihat sawit Indonesia dari perspektif baru: sebagai industri yang tengah bertransformasi menuju praktik berkelanjutan dengan tetap mengutamakan keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Hal ini sekaligus menjadi momentum penting bagi diplomasi Indonesia dalam membangun narasi bahwa sawit bukanlah ancaman bagi ekosistem global, melainkan bagian dari solusi dalam rantai pasok pangan dan energi dunia yang lebih hijau.